.:Followers:.

Tuesday, September 4, 2012

Merdekakan Jiwa


Syukur pada Allah yang tidak jemu-jemu mengurniakan rahmat dan nikmatNya. Alhamdulillah dengan izinNya, setelah lama, barulah saya berpeluang turun ke teratak penulisan kesayangan saya ini.

Semester tiga ini, saya rasa sangat sibuk sampai rasa seluruh masa tertumpu hanya untuk belajar, membuat tugasan, mengatur dan menyertai program itu ini.

Baru-baru ini, kami semua dikerahkan lagi tenaganya untuk latihan persembahan LED Grafik Manusia sempena Sambutan Kemerdekaan ke 55 di Stadium Nasional Bukit Jalil.

"Demi Negara tercinta ku korbankan jiwa.
Demi bangsa dan Negara, ku korbankan raga.
I am for you.. I am for you.."

Argh. Terlalu banyak untuk disifatkan dengan acara kali ini, namun cukuplah jika saya katakan pengalaman tahun lalu jauh lebih menyeronokkan.

Transisi emosi. Tamat.

Inilah 'kerja' kami di sana =)

Semasa berada dalam perut bas melihat ke luar stadium yang sudahpun dibanjiri rakyat Malaysia pada hari kemuncak sambutan kemerdekaan tempoh hari, saya hanya membisikkan pada diri,

“Ini adalah kemerdekaan yang aku bangga dan pertahankan atas jasa siapa sebenarnya ya? Aku sendiri lupa dan culas menghargai makna merdeka ini rupanya.”

Begitulah. Begitulah saya dan introspeksi yang selama ini belum pernah menyedari betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.

Dan pada saat “Merdeka!” dilaungkan hampir 100 000 umat manusia yang membanjiri stadium malam itu, saya juga spontan menyahut ‘merdeka!’ kurang bersemangat.

Entah kenapa semasa latihan lagi saya berasa persembahan kemerdekaan kali ini tiada maknanya langsung. Saya berasa tidak merdeka juga. Saya dijajah dengan pelbagai kerenah manusia yang menyebalkan. Didera dengan pelbagai watak manusia yang begitu menguji fikiran dan semangat.

Mereka semakin sinis dan kritis terhadap diri saya yang (pada persangkaan terhad mereka) bertanggungjawab membawa imej agama. Bagi mereka, seorang pembawa imej daie tidak mungkin berlaku silap, membuat dosa dalam hidupnya. Mereka silap, hakikat yang bernama manusia itu, TIDAK BOLEH tidak sama melakukan dosa. Sayalah juga manusia itu.

Meski ya, mengenakan tudung, hijab, niqab, etc itu bersamaan tepat dengan mengenakan akhlak-akhlak baik dan peribadi mulia anjuran Rasulullah SAW pada diri dan hati. Manusia, kekadang terlupa. Sayalah juga manusia itu, yang telah terlupa.

Lantas, saya gubalkan peraturan baru ini dalam hidup. Khas untuk diri sendiri. Demi kemaslahatan Muslimah Bertudung Labuh sedunia.


“Bilamana kau melihat keburukan manusia di depan matamu, doakan si pelakunya. Bencikan hanya tindakan mereka, bukan batang tubuhnya. Dan jika kau sibuk membicarakan perbuatan itu di belakang mereka, maka kau juga sebahagian daripada mereka.”

Setelah ditemukan ALLAH dengan artikel ini semalam, wallah, saya lega. Malahan lebih tenang. Buat insan-insan terluka sedunia, hadamilah coretan ikhlas dari sahabat kita ini; Lepaskan Luka-luka Kehidupan.

Di dalam dan sekitar kawasan stadium itu saya melihat gelagat anak-anak pasca merdeka (bukan semua) yang banyak meredam jelu dalam kalbu.

Ada yang mengusik anak dara (kerana ada segelintir yang kelihatannya juga seperti datang untuk memperagakan diri (?)). Ada yang membuang masa dengan bersidai sepanjang masa. Aduhai, inikah makna merdeka bagi mereka?

Cis, saya di situ pula hanya mampu mengetap gigi, mengempang geram di hati sendiri. Saya hanya salah seorang warga jagat yang tidak punya kuasa ke atas lapangan himpunan ratusan ribu manusia itu. Jika saya mati waktu itu pun kerana menjulang patriotisme, saya hanya akan dikenang sebagai rakyat biasa yang besar jiwanya.

Haih.. ye lah kot. Entahlah.

Apa yang penting, saya dapat belajar untuk menyesuaikan diri dalam apa jua bentuk keadaan dan cabaran. Meski ia adalah sesuatu yang agak sukar pada mulanya, tapi, perbanyakkanlah doa kepada ALLAH. Apabila sudah dapat mengikut ‘rentak’nya, insya Allah, segalanya menjadi lebih mudah.

Dan percayalah, ALLAH itu Maha Pengatur yang Bijaksana. Dia takkan meletakkan saya di sana sia-sia, tanpa makna. Dan ya, benar sekali, ada lagi perkara lain yang perlu diambil cakna.

Berlari beberapa meter mengejar bas dengan memikul beban LED Board di tangan dan beg tripod stand di belakang. Mengharung ribuan bakal guru yang lain, di tengah panas, dan kekadang meredah hujan. Semuanya menuntut semangat merdeka yang begitu mencabar.

Terbayang para pejuang terdahulu yang barangkali sama memikul beban beg dibelakang dengan membawa senjata mengharungi hutan, sungai, gunung dan lembah. Allah. Rupanya kemerdekaan bukan sesuatu yang begitu mudah seperti menyanyi lagu-lagu patriotik di atas pentas atau bersorak-sorakkan di stadium.

Sehinggalah tamat latihan dan persembahan, saya adalah warga merdeka yang mungkin telah melangkah sedikit ke hadapan, tetapi masih terluka dalam kehidupan.  

Dengan membaca cebisan ini, atau merasakan sendiri pengalaman berdiri di atas kaki saya ini, barangkalilah akan ada yang mahu mengatakan bahawa saya adalah warga Negara Malaysia ala primitif yang kecil fikirannya.

Ahh, persetankan. Jika benar ada pandangan sebegitu, maka tak salahlah tafsiran dangkal saya; Kita ini masih lagi terjajah fikirannya.

Apakah erti merdeka?

Merdekakah kita, sebenarnya?

Heh.

Biarpun penjajah sudah lama berangkat pergi, mereka sebenarnya diam-diam telah hadir kembali, dalam bentuk globalisasi. 

Dan kita semua sedang hanyut di dalamnya.

Ohhoh. 

Akhirul kalam, semoga berjaya merdekakan jiwa!


Sunday, August 19, 2012

Beetles and Roses: The Gist.


According to Brother Aiman Azlan in Beetles and Roses forum that day, in Al Quran, marriage is implicitly portrayed as a ‘sign’ where it will point us to HIM.

Ar-rum; 21. What did ALLAH say?

And among His signs is this that He created for you mates from among yourselves, that you may dwell in tranquillity with them, and He has put love and mercy between your hearts: Verily in that are signs for those who reflect. 
(Quran 30:21)


Ohh indeed, 
Men and Women are created for each other for the sake of love. 
Because of LOVE.

 *Refer to ‘Talking About Love’.



So, there were five highlights about this so-called-related-issue-to-the-topic-of-love during the forum. I’ll just summarize them all. These are the gist I could come out with;- 



1-         How to manage a friendship between male and female?

There were two guidelines given. First, always check the intention and second, always listen to your heart. Be careful on how mind justifies things. Iman in heart will somehow tell you.


2-         What to do if we cautiously fall in love?

‘Our relationship with ALLAH is actually a LOVE STORY.’ (Tariq Ramadhan, 2012)  So how do we do with the fact? Follow what have been taught by Him in surah An-Nur, which are to LOWER our GAZE, ‘generate’ modesty, and wear HIJAB properly! <3 nbsp="nbsp" o:p="o:p">

Faith will start from love. And what kind of love is that? Love for truth.. :)


3-         Is dating HALAL?

Yes, it absolutely IS! ONLY IF you have married. If you do not, what’s the use anyway? You must first remember, “to have a TRUE love, you must attach it with something that doesn’t have up and down – ALLAH!”

So, if you can’t barely stand to fall apart from each other; want to call every single hour, want to meet anytime available, and so on, it is an ADDICTION, not a love! 


4-         The best: Love BEFORE marriage or love AFTER marriage?

The thing is, you must first understand your own LOVE to know what love really is. Ponder on this line: ‘Who loves you will never touch you before marriage’. This is due to the fact that he/she loves you very much that he won’t destroy your dignity.

This means that love, desire and passion are NOT a guarantee for a successful marriage. So here is an advice; find a compatible partner – in the way of thinking.


5-         Marriage at young age. What would you say about that?

It is not about AGE, but MATURITY- financially, emotionally, physically and spiritually. Islam is not merely about avoiding haram and making things halal.

So, you need to think BEYOND FIQH. Look beyond yourself. Marriage is an investment for us to go for JANNAH.


6-         How to be an ideal muslim/ muslimah to our future spouse?

There are useful tips (insya Allah); you must know how to regulate your emotion because success in love depends on how you can regulate your feelings. How you love contributes to what you are going to get LOVE you need.

Love and respect yourself first. How? First, by SOLAH. Second, by obeying Allah’s rules. Fix and ask our heart. Insya Allah, with such purification, we’ll get the answer. Get rid of attachment.





Enough with such lame introduction. Ahha. Sorry. 


“Apparently, love may be blind but marriage is the real eye-opener. Getting married: It’s a different game. There should be different rules, different expectations and different way of looking at it, for the couple.”


*Yeah, that’s what I was thinking about, and will develop later. If Allah wills. 

TO BE CONTINUED....


p/s: Eid Mubarak, everyone! Taqabbalallahu minna waminkum ;)





Reminder and Remedy


Qoute for the soul;

"Get up and be happy again, dear."


S.e.l.f-V.a.l.u.a.t.i.o.n


The sun was beating down on a hot Wednesday afternoon when I was rushing to 802B after class. Wanted to go home as soon as possible! Having fever and it dawned on me slowly the ingratitude I have been disclaiming. ;(

Now, as I sit in the quite of this room (at home), strip me off such ‘ugly adornments’, I can engage with humility. Alhamdulillah, after quite some times, He blesses me with this ‘reminder’. For me to see the light, clothing myself once again transparently, seeing clearly with a soul that desires and strives to be pure inside.

Syafakillah, Putri Zuleika Fereizya. Get well soon!

Remember,

By Allah!



Wednesday, August 8, 2012

Final Destination.


It was a pitch-black night.
I sat patiently, waiting at the Terminal of Life.

I wait for Allah. My soul waits, and in His words I hope..

"Ting-Tong"

"Next station; Third Phase of Ramadhan. Train will be arriving at the Platform of The Release from An-Nar. You have passed Rahmah station and now are in Maghfirah. Please be in the line of God’s Law.”

And we were racing each other to get into our Dream coaches.
A few had failed. They fell off. Fortunately, I managed to get through. Yes, that was it. ‘Narrow escape’, I named it. Thank you, My Rabb.

"Ting-tong"

The door was closing.

"Allah, hopefully I have chosen the right direction."

"May I ask, where is this wagon heading to?"

"Jannah."

"In the name of God, Most Gracious, Most Merciful.
Praise be to God, the Cherisher and Sustainer of the world;
Most Gracious, Most Merciful;
Master of the Day of Judgment.
Thee do we worship, and Thine aid we seek.
Show us the straight way,
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray."
(The Noble Quran, 1:1-7)

And it all begins again..


Sunday, July 29, 2012

Puteriku.


Puteriku,
menjelang kakimu menjejak ambang dewasa,
pintallah benang–benang keimanan,
untuk pakaian seharianmu,
anyamlah tikar-tikar ketakwaan,
untuk sujud di depan Khalikmu,
jalinlah permaidani kebenaran,
untuk alas gerak-gerimu,
ukirlah hiasan kejujuran,
untuk pameran di ruang hatimu.

Lukislah arca keikhlasan,
untuk huluran pemberianmu,
bentanglah sejadah kepasrahan,
untuk segala urusan Tuhanmu,
jangan kau lupa sebutlah nama Rabb-mu,
dalam setiap tarikan nafasmu,
agar engkau selamat,
tidak diperkosa dan dianiya,
oleh kaum durjana, kaum jin, kaum iblis yang serakah,
dan tidak diperdaya situasi masa,
yang memang sudah gila tak kenal usia.

Puteriku,
lindungilah tabir kesucianmu,
dengan sifat malu dan dengan benteng imamat,
yang berwujud pesona cahaya,
yang terpancar pada surah An-Nur,
ayat tiga puluh sampai tiga puluh tiga.

Kelak, jika tiba masanya nanti,
pilihlah suami yang soleh,
kuat agama, tidak miskin,
fasih menyebut ayat-ayat dan kalamullah - Al-Quran,
fasih mengumandangkan kebenaran dan keadilan,
setia dalam cinta,
jujur dalam berkata-kata,
setia dalam suka dan duka, nestapa dan lara,
dan setia dalam menjaga keluarga, anak isteri tercinta,
dari hal-hal yang tidak diredhakan Azzawajalla.


Wasatiyyah. Pilihan kita, teman.  

Lantas lahirkan dari kesucian rahimmu,
seribu generasi teladan,
seribu generasi pilihan,
sebagaimana disabdakan Junjungan,
sebagaimana difirmankan Tuhan,
yang terukir dengan impian surah Al-Kahfi ayat tiga belas.

Akhirnya, jadilah engkau seorang ibu sejati,
sepanjang hayat selagi dikandung badan,
hingga pada saatnya, akhir masa nanti,
engkau akan dikenali sebagai muslimah sejati,
puteri ayah yang hakiki,
puteri ibu yang molek pekerti,
penyuar akhlak dan moral para nabi,
untuk peradaban umat manusia ini.

*Ini puisi dari hati seorang Papa yang dikasihi.*


Selamat sejahtera dan semoga kita dapat melahirkan manusia yang bijak dan bersifat mulia untuk kebaikan manusia sejagat tanpa mengenal batasan bangsa.

Cita Al-Haqirah. Bi Iznillah. ;)


[Apabila terkuaknya pintu kejahilan, mencurah-curah hidayah masuk melaluinya..]